12 March 2010

Nasehat Luqman...

Pas jumatan gw ngambil selebaran yang isinya lumayan bagus, tentang nasehat luqman, tadinya mo gw ketik, tapi googling bentar nemu di sini, ijin copas ya mba hehehe... dari salah ketik di selebaran itu sih kyknya ngambil dari blog mba ini juga :D 

Versi dibawah udah dibenerin salah salah ketik nya :p, tapi gw ga setuju ama semua nasihatnya, beberapa ada yang ga compatible ama gw, hehehe, tapi tiap orang beda beda, silakan baca...

=====

Nasehat Luqman

Wahai anakku, janganlah engkau meremehkan seseorang yang berbaju usang, karena Tuhanmu dan Tuhannya adalah satu. Janganlah engkau agungkan seseorang karena baju/pangkatnya, sebab baju/pangkat itu bukanlah merupakan zat dan sifat seseorang.

Wahai anakkku, jangan berbicara kepada siapa yang tidak mendengarkan perkataanmu. Memindahkan batu besar dari puncak gunung adalah lebih mudah daripada berbicara kepada orang yang tidak menganggapmu.

Wahai anakku, sesungguhnya nasihat itu terasa berat bagi "orang yang bodoh", sebagaimana mendaki bukit terasa berat bagi orang tua renta. Memindahkan batu besar dari tempatnya adalah lebih mudah daripada memahamkan orang yang tidak paham. [Yang dimaksud dengan "orang bodoh" adalah orang yang tidak mengerti tujuan Allah menjadikan manusia di dunia]

Wahai anakku, tidaklah aku menyesal karena diam, sebab apabila bicara itu perak, maka diam itu emas. Cegahlah apa yang keluar dari mulutmu, karena selama engkau diam, maka engkau akan selamat. Ingatlah, barangsiapa tidak mengendalikan lisannya, ia akhirnya kelak akan menyesal.

Wahai anakku, lebih baik engkau menjadi seorang yang bisu tetapi berakal, daripada bicara tapi bodoh.

Wahai anakku, apabila "rumahmu" terlindung dan "gudangmu" terjaga, maka beruntunglah engkau di dunia dan akhiratmu [Yang dimaksud adalah hati dan lisan].

Barangsiapa membanggakan dirinya, jelas ia akan binasa. Dan barangsiapa menyombongkan diri kepada orang lain, ia pun akan menjadi hina.

Wahai anakku, tuntutlah ilmu. Jika engkau miskin, ilmu itu menjadi harta bagimu. Dan jika engkau kaya, maka ia merupakan keindahan bagimu.

Wahai anakku, sesungguhnya hikmah (mengetahui hakikat) itu mendudukkan orang-orang miskin di tempat para raja.

Wahai anakku, barangsiapa mengatakan bahwa kejahatan bisa memadamkan kejahatan, suruhlah ia menyalakan dua api, kemudian suruhlah ia melihat apakah api yang satu bisa memadamkan api yang lainnya. Sesungguhnya, kebaikan itu akan memadamkan kejahatan seperti halnya air memadamkan api.

Wahai anakku, berbuat baiklah kepada siapa yang berbuat buruk kepadamu. Tanamlah perbuatan yang baik, niscaya engkau menikmati hasilnya. Ingatlah, barangsiapa menghunus pedang kezaliman, ia sendiri yang akan terbunuh dengannya. Dan barangsiapa menggali lubang kejahatan untuk menjerumuskan sudaranya, ia sendiri yang akan terjerumus kedalamnya.

Wahai anakku, tahanlah gangguan anak kecil karena usianya yang masih muda, dan orang tua karena ketuaannya, dan orang bodoh karena kekurangannya, dan orang alim karena keutamaaanya.

Wahai anakku, janganlah engkau menjadi manis sehingga engkau ditelan, dan janganlah menjadi pahit hingga engkau dimuntahkan.

Barangsiapa berbuat baik kepada orang yang tidak mengenal kebaikan maka ia pun telah menyia-nyiakan kebaikannya. Dan barangsiapa meninggalkan kezaliman, sesungguhnya ia telah memuliakan dirinya.

Wahai anakku, tiga macam perkara yang mengandung kebenaran : bermusyawarah dengan penasihat, bersikap lemah lembut dengan musuh dan orang yang dengki, dan menarik simpati dari setiap orang.

Wahai anakku, aku telah mengangkat batu dan memikul besi, tetapi tidak kurasakan sesuatu yang lebih berat daripada hutang. Jagalah dirimu dari hutang, karena ia menimbulkan kehinaan di siang hari dan pikiran di malam hari.

Aku telah merasakan semua makanan yang pahit, tetapi tidak kurasakan sesuatu yang lebih pahit daripada kemiskinan. Karena itu, gunakanlah pencarian yang halal untuk mengatasi kemiskinan. Tidaklah seorang menjadi miskin, melainkan ia ditimpa tiga perkara, yaitu : tipisnya pengalaman keagamaan, keyakinan yang lemah, dan hilangnya harga diri.

Wahai anakku, janganlah engkau dekati laut bila ia pasang, jangan engkau dekati penguasa bila ia sedang marah.

Wahai anakku, juallah duniamu dengan imbalan akhirat, maka engkau akan mendapat untung kedua-duanya.

Wahai anakku, ambilah bekal dari dunia secukupnya, dan belanjakanlah kelebihan pencarianmu untuk akhiratmu dan jangan menolak dunia sama sekali sehingga sengkau meminta-minta dan menjadi beban orang lain.

Wahai anakku, janganlah memasuki dunia yang dapat membahayakan akhiratmu, dan jangan pula meninggalkannya sehingga engkau minta-minta kepada orang lain.

Wahai anakku, gunakan akal orang lain dalam perbuatan yang perlu engkau lakukan. Yaitu bernusyawarahlah dengannya dalam urusanmu yang engkau anggap penting.

Wahai anakku, bila ingin memutuskan suatu perkara, janganlah engkau memutuskannya sebelum bermusyawarah dengan seorang pembimbing.

Wahai anakku, belajarlah dari orang yang berpengalaman, karena ia akan memberimu pelajaran yang diperolehnya dengan mahal, sedangkan engkau mengambilnya secara cuma-cuma.

Wahai anakku, sebagaimana engkau tidur, maka begitu pula engkau mati. Sebagaimanaengkau bangun, begitu pula engkau dibangkitkan. Maka kerjakanlah amal saleh, niscaya engkau tidur dan bangun seperti pengantin. Dan janganlah beramal buruk sehingga engkau tidur dan bangun dalam keadaan takut seperti penjahat yang akan dibunuh.

Wahai anakku, barangsiapa yang berkumpul padanya 5 perkara, yaitu : agama, harta, rasa malu, akhlak yang baik, dan kedermawanan, maka ia tergolong seorang yang bersih dan bertaqwa, menjadi kekasih Allah dan bebas dari godaan setan.

Wahai anakku, cobaan yang berat dalam agama ada 5 perkara, yaitu :
penguasa yang merugikan rakyatnya, istri yang mengecewakan suami, mempunyai anak yang banyak tapi kebutuhan untuk menghidupi mereka tidak mencukupi, seseorang teman yang menampakkan wajah gembira tetapi ia berusaha untuk membinasakanmu, dan tetangga yang merahasiakan kebaikanmu dan menyiarkan keburukanmu.

Wahai anakku, janganlah sampai seekor ayam jantan lebih cerdas darimu di saat ia bangun di waktu dini hari sementara engkau pulas di tempat tidurmu.

Apabila engkau hendak bersaudara dengan seseorang, buatlah dia marah. Jika ia bersikap bijaksana kepadamu di waktu marah, maka bersaudaralah dengannya. Kalau tidak, maka waspadailah dia.

Wahai anakku, tiga macam orang yang wajib kita bersikap lemah lembut kepada mereka, yaitu raja yang sewenang-wenang, orang sakit, dan wanita.

Wahai anakku, barangsiapa berteman dengan seorang yang buruk perilakunya, niscaya ia akan terpengaruh. Temanilah orang-orang yang mulia dan jauhilah orang-orang yang rendah budi, karena jika engkau berteman dengan orang yang mempunyai jiwa dan derajat mulia, maka ia akan menguntungkan dirimu, dan jika engkau berteman dengan orang yang rendah budi jelas ia akan menghinakanmu dan akan meninggalkanmu di saat ia tidak lagi membutuhkanmu. Janganlah engkau duduk dengan orang-orang bodoh karena kelak engkau akan menyesal, dan jangan pula engkau bergaul dengan orang yang bermuka dua.

Tiga macam orang yang pantas ditemani, yaitu : orang yang sabar di waktu marah, berani di waktu perang, dan saudara ketika ia dibutuhkan. Siapa yang berteman dengan seorang yang buruk, ia tidak selamat, dan siapa yang berteman dengan orang baik jelas ia akan beruntung.

Wahai anakku, waspadalah terhadap orang yang mulia bila engkau menghinakannya dan terhadap orang yang berkal bila engkau menjengkelkannya; dan terhadap orang dungu bila engkau bergurau dengannya; terhadap orang bodh bila engkau berteman dengannya; dan terhadap orang yang durjana bila engkau memusuhinya.

Wahai anakku, awal kemarahan adalah kegilaan dan akhirnya adalah penyesalan. Ingatlah, barangsiapa menuruti nafsunya, tentu namanya akan tercemar.

Wahai anakku, jika engkau ingin memahami hikmah, jangan sampai engkau bisa dikuasai wanita, karena wanita itu bagaikan perang tanpa perdamaian. Jika ia mencintaimu, maka ia akan memakanmu. Dan jika ia membencimu, maka ia akan membinasakanmu.

Wahai anakku, jagalah dirimu dari kebohongan, karena pada mulanya rasanya enak seperti daging burung, namun akhiranya kebohongan itu akan membinasakan perilakunya.

Barangsiapa berdusta, hilanglah air mukanya. Dan siapa yang buruk kelakuannya, banyak kesedihannya.

Wahai anakku, sesungguhnya dunia ini adalah lautan yang dalam dan banyak manusia tenggelam di dalamnnya. Maka hendaklah kapalmu di situ adalah iman, isinya adalah ketakwaan, dan layarnya adalah tawakal.